Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Politik » Presidential Threshold (PT) Bentuk Ketidakadilan

Presidential Threshold (PT) Bentuk Ketidakadilan

  • account_circle investigasi
  • calendar_month Kam, 9 Agu 2018
  • visibility 86

JAKARTA – Aturan Presidential Threshold (PT) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) kali ini dinilai merupakan bentuk ketidakadilan politik. Ini juga hasil rumusan Undang-Undang Pemilu yang sangat kuat dengan aroma arogansi kekuasaan. Idealnya, dalam Pemilu serentak, semua calon dari partai politik bisa mengajukan calonnya sendiri.

Demikian terungkap dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Media Center DPR RI, Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (09/8/2018) yang menghadirkan pembicara Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Riza Patria, dan pengamat politik dari UIN Jakarta Adi Prayitno. Diskusi kali ini bertajuk ‘Kandidat Pasangan Pilpres 2019 Kejutan Publik?’.

Riza yang tampil perdana sebagai pembicara, mengatakan, hiruk pikuk kondisi politik mutakhir di Indonesia akibat arogansi kekuasaan saat penyusunan UU Pemilu. Bagaimana tidak, semua partai politik dibatasi 20 persen PT untuk bisa mencalonkan kandidatnya dalam Pilpres 2019. Padahal, besaran PT tersebut sudah diberlakukan pada Pemilu empat tahun lalu. Sekarang harusnya diberlakukan 0 persen, karena diselenggarakan serentak dengan pemilihan legislatif.

“Perkembangan hari ini merupakan produk UU Pemilu yang memuat poin-poin arogansi kekuasaan. Presidential Threshold 20 persen, Parliamentary Threshold 4 persen yang memungkinkan adanya calon tunggal. Inilah bentuk arogansi kekuasaan dan menodai demokrasi. Itulah sebabnya, hari-hari seperti hari ini, tinggal satu hari lagi belum ada yang mendaftarkan (pasangan capres dan wapres),” ungkap politisi Partai Gerindra itu.

Saat yang sama, Fahri juga menyatakan, dengan adanya ketentuan 20 persen PT, maka semua partai dibatasi untuk mengajukan calonnya. Itu tidak adil. Mestinya itu diberlakukan pada Pemilu 2014 lalu. “Ini bentuk kezaliman di depan mata,” aku Fahri di hadapan para wartawan.

Dijelaskan Fahri, dalam sistem presidensialisme, Presiden dan DPR RI dipilih rakyat. Yang membentuk pemerintahan atau kabinet adalah Presiden. DPR RI tidak punya hubungan dengan pembentukan pemerintahan. Tapi problemnya, lanjut Fahri lagi, sistem ini tidak berjodoh dengan multipartai. Sistem presidensial hanya berjodoh dengan sistem dua partai. Maka di negara-negara yang mapan demokrasinya, umumnya sistem presidensial hanya memiliki paling banyak lima partai.

“Kita ini, kan, ada sepuluh partai sekarang. Kita tidak tahu partai pemerintah visinya seperti apa. Orang masuk pemerintahan bukan karena visi dan ide, tapi karena diajak. Atau diutus partai sebagai petugas partai. Maka dalam kabinet Jokowi ada menteri yang sosialis, kapitalis, ekstrem kiri, dan ekstrem kanan. Semuanya campur kaya gado-gado. Presidennya bagi-bagi akte seperti seorang sosialis, tapi juga bagi-bagi saham seperti seorang kapitalis,” tandas Fahri.

Ironisnya, hiruk pikuk politik di Tanah Air justru terjadi di tengah bencana alam yang menimpa warga di Nusa Tenggara Barat. Fahri mengatakan, mungkin semua pihak terutama elit politik sedang mendapat teguran Tuhan. Semua harus waspada dengan bencana alam yang bersamaan dengan kontestasi politik. (mh/sf–DPRj

  • Penulis: investigasi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tim Bola Voli Putri Jaya Musi Rawas Lolos 8 Besar Kerjunas Livoli Divisi 1

    • calendar_month Kam, 15 Nov 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Musi Rawas – Kabar Gembira muncul dari Tim Bola Voli Putri Jaya Musi Rawas Kabupaten Musi Rawas karena tim yang dimanageri Yudi Fachriansyah ini dipastikan masuk ke 8 besar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Livoli Divisi 1 Tahun 2018. Suksesnya tim Jaya Kabupaten Musi Rawas yang tergabung di pool S bersama dengan tim Kharisma Bandung, Optima Tangerang […]

  • Membudayakan Membaca Sejak Dini

    Membudayakan Membaca Sejak Dini

    • calendar_month Ming, 15 Agu 2021
    • account_circle investigasi
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Generasi penerus bangsa pada hakekatnya merupakan generasi yang harus dididik agar menjadi generasi yang berkualitas. Zaman sekarang ini sangat jarang sekali anak-anak yang suka membaca buku, padahal buku merupakan jendela informasi yang sangat penting. Dengan membaca kita dapat memperoleh pengetahuan yang sangat banyak dan beraneka ragam. Generasi sekarang waktnya lebih banyak dihabiskan untuk bermain gadget. […]

  • Wabup Mura Pimpin Upacara HUT Pramuka SMAN Tugumulyo

    Wabup Mura Pimpin Upacara HUT Pramuka SMAN Tugumulyo

    • calendar_month Sen, 14 Agu 2023
    • account_circle investigasi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – Wakil Bupati (Wabp) Musi Rawas Hj. Suwarti menghadiri Upacara Peringatan Hari Pramuka, di SMA Negeri Tugumulyo, Senin ( 14/08/2023). Wabup Suwarti menyampaikan, Gerakan Pramuka telah lahir sejak 62 tahun yang lalu, gerakan ini merupakan suatu organisasi pendidikan dengan nama lengkap gerakan pendidikan kepanduan Praja Muda Karana yang fokus pada pendidikan bagi anak-anak […]

  • Inilah Personil Satgas Saber Pungli Musirawas

    • calendar_month Jum, 20 Jan 2017
    • account_circle investigasi
    • visibility 88
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS, Jurnalindependen.com -Bupati Musirawas, Hendra Gunawan mengukuhkan Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Kabupaten Musirawas (Mura), Jum’at (20/01/2017) di Auditorium Pemda setempat. Berikut susunan personil Satgas Saber Pungli Kabupaten Mura. Penanggung jawab : Bupati Mura. Ketua Pelaksana : Waka Polres Mura Wk Ketua Palaksana I : Inspektur Kabupaten Mura. Wk Ketua Pelaksana […]

  • Pulang Kerja, PK PT Agro Dikeroyok

    • calendar_month Rab, 21 Mar 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 111
    • 0Komentar

    MURATARA- Anggota Polsek Nibung Polres Musi Rawas, berhasil menangkap dua pelaku pengeroyokan terhadap petugas keamanan (PK) PT Agro Muara Rupit, Taufik (44), warga Desa Krani Jaya, Kecamatan Nibung, Kabupaten Muratara, Sabtu, (17/03). Dua pelaku yang merupakan kakak adik itu berinisial MY (31) dan YS (25), keduanya warga Desa Krani Jaya, Kecamatan Nibung, Kabupaten Muratara. Kapolres […]

  • Dugaan Penyimpangan Dana KPU Jangan Ganggu Pilkada

    • calendar_month Sab, 20 Jun 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 90
    • 0Komentar

    JAKARTA — Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-PR), Yuddy Chrisnandi berharap temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas dugaan kerugian negara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), tidak mengganggu jadwal pelaksanaan pilkada serentak 2015. “Kalau misalnya ada satu pejabat tertentu (yang menyimpangkan dana), ya pejabatnya saja atau oknumnya saja yang diberikan sanksi, tidak harus keseluruhan […]

expand_less