Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Politik » Musuh Utama Pilkada Harus Diatasi

Musuh Utama Pilkada Harus Diatasi

  • account_circle investigasi
  • calendar_month Jum, 23 Feb 2018
  • visibility 65

JAKARTA – Pilkada serentak yang akan dihelat tahun ini menghadapi banyak tantangan krusial. Kualitas Pilkada pun menjadi taruhan. Kualitas para pemimpin daerah yang kelak akan bermunculan ditentukan pula dari kontestasi Pilkada serentak yang berkualitas.

Demikian mengemuka dalam diskusi publik di Media Center DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (23/2/2018), bertajuk “Pilkada Serentak dan Pemilu, Pemilih Berdaulat Negara Kuat”. Hadir dalam diskusi ini Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto, Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Anggota Bawaslu Rahmat Bagja, Ketua DPP Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia Razikin, dan Syamsuddin Radjab dari Jenggala Institute.

Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengulas musuh utama Pilkada serentak tahun ini. Setidaknya ada tiga yang menjadi musuh bersama Pilkada, yaitu politik uang, politisasi sara, dan hoax. Politik uang sudah menjadi penyakit politisi ketika musim kampanye tiba. Para pemilih termakan janji setelah politik uang beraksi. Soal sara dalam kampanye politik, akhir-akhir ini sangat mengganggu kualitas Pilkada. Dan Pilkada DKI Jakarta jadi contoh konkrit bagaimana isu sara dipolitisir untuk kemenangan politik.

Sementara itu, hoax atau kabar bohong yang tidak berdasar fakta juga turut andil menurunkan kualitas Pilkada. Konflik politik kerap bermula dari hoax tersebut. Untuk itu, pendidikan politik pemilih jadi keniscayaan untuk terus diberdayakan. Namun, KPU dan KPUD saat sedang kewalahan menghadapi persiapan Pilkada, lantaran saat bersamaan akan ada persiapan Pilpres 2019. Ditambah lagi, di beberapa KPUD sedang memasuki masa transisi kepengurusan. Jadi isu-isu krusial Pilkada tak tertangani maksimal.

Sementara itu, Syamsuddin Radjab menyerukan agar negara membiayai partai politik. Argumen Radjab, didasari pada merebaknya politik uang saat kampanye maupun rekrutmen calon kepala daerah maupun calon politisi. Tak dipungkiri hampir semua partai politik mengutip dana dari para calon politisi agar bisa ditempatkan sebagai calon anggota legislatif. Begitu juga calon kepala daerah dihadapkan pada isu yang sama.

“Negara sebaiknya membiayai partai. Jangan partai meminta dana kepada calon,” ujar Syamsuddin. Sementara soal isu sara, sebaiknya tak perlu ditakuti. Menurutnya, justru dari sara itu, para pemuda pendiri bangsa bisa bersatu. Isu sara butuh pengelolaan pemerintah, bukan diberantas. (mh/sc-DPR)

  • Penulis: investigasi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPK Sampaikan Hasil Korsup di Bidang Pencegahan

    KPK Sampaikan Hasil Korsup di Bidang Pencegahan

    • calendar_month Sab, 12 Des 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Bandung — Untuk mewujudkan tata kelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang transparan dan akuntabel, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar “Seminar Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Korupsi”. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam Festival Antikorupsi 2015 yang dihelat di Ruang B2, Sasana Budaya Ganesa, Jalan Taman Sari, Kota Bandung pada Jumat (11/12). Dalam seminar tersebut […]

  • Pemilik “Jims SPA” Dituntut Delapan Tahun Penjara

    • calendar_month Sel, 19 Sep 2017
    • account_circle investigasi
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Pemilik “Jims SPA” Norman Amanda (26), terdakwa perkara perdagangan manusia, dituntut hukuman delapan tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang di Pengadilan Negeri Palembang, Selasa. JPU Rini Purnawati menilai Norman melanggar Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. JPU juga menuntut pemilik “Jims SPA” yang berada di dalam kompleks […]

  • Musi Rawas Religius Menjadi Penilaian IGA 2017

    Musi Rawas Religius Menjadi Penilaian IGA 2017

    • calendar_month Rab, 22 Nov 2017
    • account_circle investigasi
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Musi Rawas – Program Musi Rawas Darussalam yang telah di gulirkan pada kepemimpinan sebelumnya, pada masa kepemimpinan H Hendra Gunawan terus disempurnakan, sehingga menjadi salah satu bagian dalam penilaian penghargaan pemerintah daerah inovatif (Innovative Government Award/IGA) 2017 yang diselenggarakan oleh Badan Litbang Kementerian Dalam Negeri RI. Adapun inovasi bidang keagamaan yang telah digulirkan dan menjadi […]

  • Diplomasi Bulu Tangkis ala Presiden Jokowi

    • calendar_month Jum, 4 Mei 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 56
    • 0Komentar

    PRESIDEN Joko Widodo bermain bulu tangkis dengan Sultan Brunei Darussalam Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Keduanya bermain bulu tangkis ketika mengunjungi Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Cilangkap, Jakarta pada Kamis, 3 Mei 2018. Presiden mengatakan bahwa persahabatan antar negara tidak selalu dilakukan dalam sebuah forum yang formal saja. Bermain bulu tangkis ini menurut Presiden […]

  • Musrenbang Tingkat Kabupaten Musi Rawas Rumuskan Prioritas Pembangunan

    • calendar_month Sel, 20 Mar 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 79
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS, Jurnalindependen.co.id – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura), dalam rangka penyusunan RKPD tahun 2019, Selasa (20/03) di Bagas Raya, berjalan lancar dan sukses.  Acara resmi dibuka Bupati Mura, Hendra Gunawan, Nara sumber acara dari Irjen PDT Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Dr Syamsul Widodo. Litbang Inovasi Daerah […]

  • Absen Apel, 119 Pegawai Setda Mura Dibina

    • calendar_month Rab, 25 Apr 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 72
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – Tidak Kurang dari 119 pegawai di Sekretarian Daerah (Setda) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Rabu (25/04/2018) diberikan pembinaan oleh Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM). Pembinaan bagi 119 pegawai yang terdiri 66 PNS dan 53 honorer atau Tenaga Kerja Sukarela (TKS) tidak disiplin (indisipliner) karen tidak mengikuti apel pagi atau bolos apel […]

expand_less