Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » News » Buku ‘Sadar Kaya’ : Millionaire Mindset 2

Buku ‘Sadar Kaya’ : Millionaire Mindset 2

  • account_circle investigasi
  • calendar_month Jum, 17 Sep 2021
  • visibility 140

Baca Tulisan Sebelumnya : Buku ‘Sadar Kaya’ : Millionaire Mindset

TAK lama setelah dia (penagih hutang) pergi datanglah pak Ali dengan Kijang tuanya. Tanpa basa basi langsung saya peluk erat dia.

“Pak Ali, syukron, terima kasih,” kata saya.

“Ayo ke dokter mas, aku bawa Fathur, mas gendong Azka,” katanya singkat.

Setelah 2 tahun dihajar musibah yang merusak keyakinan saya, akhirnya saat itu saya menyadari satu hal, semua masalah yang saya alami itu berasal dari diri saya sendiri.

Baca : Sebuah Pengantar, Sadar Kaya

Hal lain diluar diri saya hanyalah pelengkap, Saya langsung berdoa, “Maafkan saya ya Allah, ampuni saya. Engkau begitu mulia dan saya selama ini salah memandangmu. Saya sadar bahwa saya sendirilah yang harus bertanggung jawab dan menyelesaikan semua ini. Saya lah yang ingkar sepenuhnya, maafkan saya telah meragukan kuasa-Mu ya Allah.”

Saya memilih untuk berdamai dengan Tuhan dan saya ingin memulai sesuatu dengan kesadaran penuh untuk mengubah nasib saya.

Menulis ulang sejarah hidup saya, saya  mendapat semacam pemahaman bahwa cara berpikir saya saat itu tidak bekerja dengan benar.

Buktinya saya rugi, buktinya saya bangkrut. Buktinya semua orang menjauh, artinya saya harus merubah cara berpikir. Saya harus kemana dan bagaimana saya bisa mengubahnya? Itulah pertanyaannya.

Tak Lama setelah menjual rumah, saya pindah ke rumah kontrakan yang sempit. Suatu sore tetangga rumah kontrakan saya pulang dari kantor, kaca mobilnya terbuka separuh.

Dia rupanya ingin membuang sesuatu mungkin sampah, agaknya dia tidak melihat saya yang berdiri disisi jalan tersebut, mungkin karena Maghrib yang pencahayaannya mulai samar. Mungkin juga dia tidak fokus karena sibuk mengumpulkan barang yang akan dibuangnya.

Bruk… segumpal kertas jatuh tepat di kaki saya. Entah mengapa saya tergerak untuk memungutnya, mungkin karena saya tertarik dengan tulisannya yang berwarna merah mengkilat. Setelah membuka lipatannya yang membaca kertas itu ternyata merupakan brosur ‘Millionaire Mindset’ Training di Australia.

Saya merasa aneh dan terkejut inikah jawaban dari doa yang saya panjatkan?

Saya berdiri termenung, rupanya tetangga saya  tadi baru sadar kalau sampah yang dibuangnya jatuh di depan saya. Dia pun menghampiri saya, “Mas, maaf aku nggak lihat,” katanya dengan kikuk.

“Lho, gak apa-apa, akunya juga lagi ngelamun. Aku baru ‘ngeh’ setelah melihat brosur ini,” kata saya berbasa basi sambil menunjukan lembaran tersebut.

“Ya, tadi saya dapat dari kantor tapi sepertinya nggak mungkin saya kesana. He he… bukannya gak butuh jadi orang kaya sih, tapi harganya itu lho buat seminggu saja Rp 30 juta, mending juga buat modal dagang,” urainya.

Saya hanya mengangguk-angguk tersenyum sopan. “Saya pamit ya, Pak Syarif,” kata saya.

“Ya mas, maaf ya tadi, benar-benar nggak sengaja mas,” katanya sungguh-sungguh.

“Gak apa-apa bos santai saja,” kata saya lagi.

Setelah itu saya langsung sibuk berfikir dimana saya bisa cari uang Rp 30 juta, belum lagi sangu untuk keluarga dirumah sementara saya pergi. Yang jelas saya sudah bertekad untuk berubah, saya melihat ini sebagai solusinya, saya percaya itu.

Singkat cerita, harta terakhir saya Motor Tiger, Mesin Jahit dan beberapa barang keluarga, saya jual, saya nekat terbang ke Negeri Kangguru (Australia).

Saya menginginkan ilmu tersebut, sayapun berangkat untuk mengikuti ‘Millionaire Mindset’ Training disana dengan harapan bisa menerapkannya untuk memperbaiki kondisi ekonomi saya disini.

Kira-kira sebulan setelah kembali dari pelatihan selama 7 hari tersebut, ternyata tidak ada perubahan apa-apa dalam perjalanan hidup saya.

Saya masih menganggap bahwa apa yang saya pelajari itu agak aneh, agak nggak kena dilogika. “Mek ngono tok, opo iyo (kayak gitu doang, memang bisa),” batin saya.

Memang benar saya meragukan dan saya menganalisis, mencoba mengurai maksud dari pelatihan tersebut, tetapi saya lelah. Keadaan saya masih begitu-begitu saja, saya belum bisa dapat uang lagi, saya belum bisa melunasi tunggakan hutang.

Saya belum bisa merubah nasib saya, apakah saya harus belajar lagi?

Saya mencoba mengingat mundur pengalaman hidup saya semua itu terjadi hingga diusia 26 tahun. Benar, saya merasa seakan berjalan dijalan bebas hambatan semua mudah, semuanya gampang pada saat itu. Bahkan saya menggampangi proses yang saat ini justru proses merupakan hal yang paling saya hormati.

Barulah sejak usia 28 tahun, kehidupan saya mengalami pasang surut yang luar biasa, baik dari masalah pribadi yang personal, masalah spritual ketuhanan, masalah rumah tangga, masalah Parenting hingga keuangan.

Dikala saya berfikir laut itu berair tenang, saya memilih mengangkat jangkar dan mengembangkan layar ke sebuah tujuan pasti yaitu ingin sukses dengan tujuan hanya tahu satu arah yaitu kedepan.

Sebuah kesombongan yang saya bayar sangat mahal, sangat melelahkan, penuh duka, air mata dan keringat, ternyata laut didepan tak semanis gelombang dipantai.

Dalam perjalanan, ombak besar, angin kencang, bahan bakar kurang, sumber daya terbatas. Satu hal yang saya lupa, saya tidak membawa kompas penunjuk arah, dalam artian saya mengarungi samudera tanpa ilmu, tanpa petunjuk, tanpa pembimbing, mentang-mentang punya Glory from the Past (kisah sukses masa lalu).

Saya merasa bisa melakukan apa saja, inilah biang masalah saya dimasa kedepannya.

Sejak keputusan mengarungi samudera, hingga sampailah saya dititik ketika kapal saya akhirnya karam ke dasar samudera,  sementara badan saya terdampar dipulau kecil sendiri, dengan kebutuhan dasar seadanya.

Saya hanya bisa diam, meratap pun tidak bisa, air mata habis, tenaga tak punya. Yang ada hanya nafas dibadan, itupun setiap tarikan nafas terasa sesak, seakan-akan dada ini mau meledak karena terisi oleh rasa kesal, lelah, marah dan kecewa.

Karena itu, ketika saya memutuskan untuk berubah artinya saya tidak mau melakukan semuanya dengan cara yang sama seperti masa lalu. Saya harus melakukannya dengan cara yang berbeda.

Karena itulah saya memutuskan bahwa saya harus berimu agar saya memiliki platform atau pondasi baru, terutama cara untuk saya berfikir. Ibaratnya, saya bukan hanya perlu belajar dan menginstall software baru tapi ‘OS’ atau Operating Systemnya harus saya reset untuk bisa terhubung dengan software tersebut.

Sederhananya begini, jika otak kita yang kemampuannya sangat dahsyat ini adalah hardware pemberian Tuhan, softwarenya kita sendiri yang pasang, sebut saja software sukses, software sehat, software bahagia. Itu semua manusia yang install.

Baca : Otak Sama, Nasib Beda

Jadi hardwarenya memang pemberian Tuhan, tetapi softwarenya buatan manusia. Mungkin banyak pembaca yang berkerut ketika saya membawa-bawa hal ini.

Tapi coba saya berikan ilustrasi, seorang anak yang hidupnya dikritik, dimarahi, ditekan, dipaksa, diharuskan, dibatasi, dilarang, dimaki dan dihina akan membuat dirinya tumbuh sebagai pribadi yang peragu, pemarah dan pendendam.

Bandingkan dengan anak yang didorong, dipuji, disayang, diperhatikan, didukung dan dikelilingi suasana penuh canda tawa. Sang anak akan memiliki platform hidup lebih ringan, ‘fun’ banyak senyum dan vibrasi dirinya disukai orang.

Yang saya maksud disini adalah, software seseorang diinstall oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya dan tentu saja software yang buruk bisa diganti, diubah bahkan dibuang bila kita mau.

Sesuatu yang dipasang umumnya bisa juga dilepas, bukan sesuatu yang permanen, teman-teman dari bidang Fsikologi mungkin mengenal ini sebagai sesi Terapiotik, istilah dalam dunia Fsikologi.

Ketika mencari kompas ilmu dan perubahan pola pikir itulah baru saya sadar, selama ini saya menerima hasil sebuah printer yang  isinya salah, lalu saya mati-matian memberi ‘tip ex’ pada tulisan dalam kertas itu begitu seterusnya.

Saya tidak sadar bahwa yang harus saya ubah justru dokumen yang akan di print, bukan yang sudah di print. Yang salah bukan printernya, melainkan data didalam komputernya. Kalau isi komputernya sudah benar baik itu softwarenya maupun datanya, hasil yang diprint pasti tidak akan salah.

Sumber : Buku ‘SADAR KAYA’ Karya : Mardigu Wowiek Prasantyo

Baca Tulisan Berikutnya : Buku ‘Sadar Kaya’ : Jangan Membatalkan Doa

  • Penulis: investigasi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Proyek 1,7 Miliar di Dinkes Mura Tanpa Proses Lelang

    • calendar_month Sen, 11 Des 2017
    • account_circle investigasi
    • visibility 85
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – TERKAIT Proyek belanja makanan dan minuman (Makmin) Klien/Rumah Sakit/ Siswa TA 2017, senilai Rp 1,7 milyar, yang tercantum dalam kegiatan Jaminan Persalinan (Jampersal) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Musi Rawas “tanpa proses lelang”,  Senin (11/12/2017). Pasalnya, menurut M. Nizar, selaku Sekretaris Dinkes Mura saat dijumpai diruang kerjanya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dikerjakan oleh […]

  • Bakal Calon Sekda Sudah Dilingkari Walikota

    • calendar_month Sen, 14 Jan 2019
    • account_circle investigasi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    MURATARA – Penetapan Sekretaris Daerah (Sekda) yang definitif di wilayah Kabupaten Musirawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan, membuat semua pihak dag dig dug bahkan bertanya-tanya siapakah bakal jadi Sekda. Namun berbeda dengan Asisten I di Kabupaten Muratara ini dirinya tidak merasa resah dan dag dig dug sebab berdasarkan pengalamannya nama bakal Sekda diduga sudah dilingkari dan […]

  • Dua TNI yang Ditembak Polisi Sedang Jalani Tugas

    • calendar_month Ming, 15 Nov 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 1.247
    • 0Komentar

    BANDUNG  — Kapendam lll Siliwangi, Kol Arm Robertson Ismail menegaskan, dua anggota Denintel yang tertembak oleh polisi di wilayah Sumsel sedang menjalankan tugas. Ia menepis sinyalemen kedua anggota Denintel Kodam Siliwangi tersebut terlibat tindak kriminal. “Kedua anggota tersebut kapten Chb Edi Sutrisno dan Serda Deden. Keduanya sedang menjalankan tugas resmi,” kata dia dalam keterangannya, sabtu […]

  • Gubernur Instruksikan Setiap Desa Sediakan Tempat Isolasi Covid-19

    • calendar_month Ming, 5 Apr 2020
    • account_circle investigasi
    • visibility 94
    • 0Komentar

    PALEMBANG – | Gubernur Sumsel H Herman Deru mengintruksikan agar setiap desa menyediakan tempat isolasi untuk menampung Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dalam rangka mengoptimalkan upaya Pemprov Sumsel cegah tangkal Covid-19 di Sumsel. “Pemprov Sumsel secara masif melakukan cegah tangkal corona virus atau Covid-19 di Sumsel. Perluasan tempat isolasi bagi ODP […]

  • Benarkah Anggaran di Bagian Umum Rawan Penyimpangan?

    Benarkah Anggaran di Bagian Umum Rawan Penyimpangan?

    • calendar_month Kam, 11 Des 2014
    • account_circle investigasi
    • visibility 107
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS — Sejumlah kegiatan di Bagian Umum dan Arsip Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dikabarkan rawan terjadinya penyimpangan dalam penyerapan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2013 lalu, dengan alokasi dana mencapai miliaran rupiah. Berdasarkan informasi menyebutkan sejumlah kegiatan itu diduga mengalami kebocoran dana hingga mencapai ratusan […]

  • Diduga Langgar Perpres 70, Yamin Pabli Tidak Takut Dilaporkan

    • calendar_month Sen, 15 Jun 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS, Jurnalindependen.com — Terhadap dugaan pelanggaran dalam kegiatan Operasional dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Panti Asuhan/Jompo tahun 2013, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Musi Rawas, Yamin Pabli mengatakan tidak takut untuk dilaporkan. Hal ini disampaikan Yamin Pabli dikantornya, Senin (15/06/2015) kepada wartawan. “Kami rasa semua kegiatan tersebut tidak ada masalah, buktinya dalam pemeriksaan BPK maupun […]

expand_less