Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Peristiwa » Riwayat Perjuangan Mewujudkan Nama ‘Indonesia’

Riwayat Perjuangan Mewujudkan Nama ‘Indonesia’

  • account_circle investigasi
  • calendar_month Kam, 13 Agu 2015
  • visibility 138

Tahun 1923, Bung Hatta bertemu dengan Bung Karno untuk pertama kalinya. Sejak itu, keduanya seolah-olah dipertautkan oleh alam; mereka berjuang bersama, dan puncaknya adalah ketika membacakan teks proklamasi kemerdekaan bersama. Keduanya memang terlihat seiring, tapi jika diperhatikan, Bung Hatta dan Bung Karno justru dipertemukan oleh perbedaan.

Sebelum bertemu dengan Bung Karno, Bung Hatta sudah aktif di Indische Vereeniging yang salah satu perjuangannnya adalah mewujudkan nama “Indonesia”.

Ceritanya begini. Februari 1922, Indische Vereeniging mengadakan rapat untuk memilih pengurus baru. Selain mengganti pengurus, ternyata peserta rapat juga sepakat untuk mengganti nama organisasi tersebut menjadi Indonesische Vereeniging. Penggantian nama dapat dimaknai bahwa gagasan tentang sebuah bangsa yang kongkrit telah tumbuh di kalangan intelektual Indonesia yang sedang menimba ilmu di Belanda, termasuk di benak Bung Hatta.

Setahun kemudian Bung Hatta aktif terlibat menjadi pengurus organisasi ini sampai akhirnya terpilih menjadi ketuanya pada 1926, setelah nama organisasi tersebut diganti lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) pada 8 Februari 1925. Dengan menjadi ketua maka langkah Bung Hatta ke dunia politik terbuka sudah. Sikap organisasi yang semakin keras terhadap pemerintah Belanda telah menyebabkan organisasi ini dianggap melakukan penentangan. Orang tua para anggotanya diancam oleh pemerintah jajahan, karena membiarkan anaknya menjadi anggota PI atau mereka sendiri keluar dari jabatan negara, jika yang bersangkutan seorang pegawai negeri.

Bung Hatta mulai aktif mempropagandakan Indonesia ke berbagai kawasan di Eropa. Dalam berbagai kesempatan ia menuntut penggunaan kata “Indonesia” alih-alih “Hindia Belanda”. Berbagai konggres ia hadiri, terutama yang berkaitan dengan gerakan antikolonialisme, sampai akhirnya sepulang menghadiri konferensi Liga Internasional Wanita yang diselenggarakan di Swis, Bung Hatta beserta tiga rekannya ditangkap polisi Belanda.

Bung Hatta dituduh menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda. Selama lima setengah bulan mereka ditahan dan diinterogasi berulang kali sampai akhirnya diajukan ke sidang pengadilan. Bung Hatta menolak didampingi seorang pengacara, ia akan melakukan pembelaan oleh dirinya sendiri. Sidang di pengadilan akhirnya memutuskan bahwa tuduhan terhadap Bung Hatta dan rekan-rekannya tidak dapat dibuktikan. Mereka dibebaskan.

Sebelas tahun lamanya Bung Hatta menempuh pendidikan di Belanda. Tanggal 5 Juli 1932 ia dinyatakan lulus sebagai sarjana ekonomi. Waktu studinya demikian panjang lantaran aktivitas dia di dunia pergerakan. Seminggu setelah dinyatakan lulus ia kembali ke tanah air. Selain gelar sarjana, oleh-oleh lain yang amat penting adalah 16 peti besi berisi buku. Bung Hatta adalah seorang kutu buku dan pencinta buku.

Bulan September 1932 Bung Hatta berjumpa Bung Karno untuk pertama kalinya. Sejak itu, keduanya seperti dipertautkan alam, berjuang bersama membela Tanah Air. Beberapa kali mereka harus menikmati pembuangan oleh pemerintah jajahan, kadang bersama namun lebih banyak ditempatkan di tempat yang berbeda. Puncak kerjasama keduanya terpatri abadi pada teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di sana nama mereka berdua tertera sebagai wakil bangsa Indonesia.

Seperti disinggung di awal, Bung Hatta dan Bung Karno sejatinya dipertemukan oleh perbedaan, Polemik yang pertama antara keduanya mengenai strategi perjuangan terjadi pada dua surat kabar yang berbeda. Perbedaan pandangan antara keduanya dalam menyikapi berbagai persoalan terus mereka bawa sampai Indonesia merdeka dan keduanya memimpin Republik Indonesia. Puncak perbedaan itu terjadi pada 1956 ketika Bung Hatta akhirnya mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

(Purnawan Basundoro, “Bung Hatta Proklamator Sederhana Nyaris Jadi Ulama” Intisari, 2009)–NationalGeographic

  • Penulis: investigasi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dewan Minta Pemerintah Atasi ‘Blank Spot’ di Wilayah Musi Rawas

    • calendar_month Sen, 9 Apr 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    LUBUKLINGGAU, Jurnalindependen.co.id – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, A Hafidz Thohir minta kepada Pemerintah untuk memfasilitasi dan mengatasi ‘blank spot’ yang ada di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. “Saat ini Kades dan masyarakat desa masih kesulitan mengakses informasi, terlebih untuk menerapkan aplikasi Sistem Keuangan Desa (Siskeudes). Hal ini karena masih banyak wilayah desa ‘blank […]

  • Pemerintah Diminta Perhatikan Masyarakat, Terkait Rencana PPKM Darurat 6 Minggu

    • calendar_month Kam, 15 Jul 2021
    • account_circle investigasi
    • visibility 135
    • 0Komentar

    BANDUNG – | Terkait adanya rencana Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat selama 6 minggu, Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Abdul Muhaimin Iskandar, meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan dan juga menyiapkan langkah-langkah bantuan yang nantinya akan diberikan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah yang saat ini paling terdampak Covid-19. “Pertama belum dipastikan […]

  • Galang Dukungan Balon Bupati, Murtin Undang Aktivis dan Teman Lama

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    GUNA mempererat tali persaudaraan dengan beberapa teman lama dan seperjuangan baik dari kalangan LSM, Tokoh Masyarakat dan aktivis pejuang rakyat, H Achmad Murtin adakan pertemuan dirumah Beliau di Kelurahan Marga Mulya, Lubuklinggau-Sumatera Selatan, Senin (16/03/2015). Selain acara silaturahmi, H Achmad Murtin menyampaikan hajatnya untuk maju dalam suksesi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Musi Rawas mendatang. […]

  • Mengosongkan Kolom Agama KTP di Nilai Mudharat

    Mengosongkan Kolom Agama KTP di Nilai Mudharat

    • calendar_month Rab, 15 Apr 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    JAKARTA — Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis beranggapan jika kolom agama dikosongkan dalam identitas kependudukan akan memunculkan mudharat (bahaya). “Ya, pastilah kalau ada orang meninggal lalu tidak diketahui apa agamanya mau dimakamkan seperti apa?” ujarnya, Rabu (15/4). Dia menjelaskan, pada umumnya masyarakat di Indonesia ketika melakukan upacara seperti pernikahan dan pemakaman […]

  • PUCKTR Janjikan Lampu Jalan Bulan Depan di Leban Jaya

    • calendar_month Kam, 12 Apr 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 142
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS- Masyarakat Desa Leban Jaya, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas yang meminta 17 titik sarana lampu jalan di desa itu difungsikan diharapkan untuk bersabar. Pihak Dinas PU Cipta Karya Tata Ruang dan Pemukiman (CKTRP) Musi Rawas berjanji akan merealisasikan keinginan warga itu pada Mei 2018 mendatang. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas PU CKTRP Musi […]

  • Warga Soroti Pembangunan Jembatan Desa E Wonokerto Tidak Sesuai

    • calendar_month Ming, 12 Mei 2019
    • account_circle investigasi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS – Pembangunan di Desa banyak menjadi sorotan masyarakat. Di zaman keterbukaan saat ini masyarakat sudah mengetahui dan menilai pembangunan terutama di desa, baik itu bersumber dari dana pusat, daerah maupun desa. Seperti pembangunan jembatan di jalan Desa E Wonokerto, Kecamatan Tugumulyo mendapat sorotan dari masyarakat. Kdj (52) pedagang keliling menyampaikan kepada wartawan saat melintasi […]

expand_less