Breaking News
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Peristiwa » Riwayat Perjuangan Mewujudkan Nama ‘Indonesia’

Riwayat Perjuangan Mewujudkan Nama ‘Indonesia’

  • account_circle investigasi
  • calendar_month Kam, 13 Agu 2015
  • visibility 117

Tahun 1923, Bung Hatta bertemu dengan Bung Karno untuk pertama kalinya. Sejak itu, keduanya seolah-olah dipertautkan oleh alam; mereka berjuang bersama, dan puncaknya adalah ketika membacakan teks proklamasi kemerdekaan bersama. Keduanya memang terlihat seiring, tapi jika diperhatikan, Bung Hatta dan Bung Karno justru dipertemukan oleh perbedaan.

Sebelum bertemu dengan Bung Karno, Bung Hatta sudah aktif di Indische Vereeniging yang salah satu perjuangannnya adalah mewujudkan nama “Indonesia”.

Ceritanya begini. Februari 1922, Indische Vereeniging mengadakan rapat untuk memilih pengurus baru. Selain mengganti pengurus, ternyata peserta rapat juga sepakat untuk mengganti nama organisasi tersebut menjadi Indonesische Vereeniging. Penggantian nama dapat dimaknai bahwa gagasan tentang sebuah bangsa yang kongkrit telah tumbuh di kalangan intelektual Indonesia yang sedang menimba ilmu di Belanda, termasuk di benak Bung Hatta.

Setahun kemudian Bung Hatta aktif terlibat menjadi pengurus organisasi ini sampai akhirnya terpilih menjadi ketuanya pada 1926, setelah nama organisasi tersebut diganti lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) pada 8 Februari 1925. Dengan menjadi ketua maka langkah Bung Hatta ke dunia politik terbuka sudah. Sikap organisasi yang semakin keras terhadap pemerintah Belanda telah menyebabkan organisasi ini dianggap melakukan penentangan. Orang tua para anggotanya diancam oleh pemerintah jajahan, karena membiarkan anaknya menjadi anggota PI atau mereka sendiri keluar dari jabatan negara, jika yang bersangkutan seorang pegawai negeri.

Bung Hatta mulai aktif mempropagandakan Indonesia ke berbagai kawasan di Eropa. Dalam berbagai kesempatan ia menuntut penggunaan kata “Indonesia” alih-alih “Hindia Belanda”. Berbagai konggres ia hadiri, terutama yang berkaitan dengan gerakan antikolonialisme, sampai akhirnya sepulang menghadiri konferensi Liga Internasional Wanita yang diselenggarakan di Swis, Bung Hatta beserta tiga rekannya ditangkap polisi Belanda.

Bung Hatta dituduh menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda. Selama lima setengah bulan mereka ditahan dan diinterogasi berulang kali sampai akhirnya diajukan ke sidang pengadilan. Bung Hatta menolak didampingi seorang pengacara, ia akan melakukan pembelaan oleh dirinya sendiri. Sidang di pengadilan akhirnya memutuskan bahwa tuduhan terhadap Bung Hatta dan rekan-rekannya tidak dapat dibuktikan. Mereka dibebaskan.

Sebelas tahun lamanya Bung Hatta menempuh pendidikan di Belanda. Tanggal 5 Juli 1932 ia dinyatakan lulus sebagai sarjana ekonomi. Waktu studinya demikian panjang lantaran aktivitas dia di dunia pergerakan. Seminggu setelah dinyatakan lulus ia kembali ke tanah air. Selain gelar sarjana, oleh-oleh lain yang amat penting adalah 16 peti besi berisi buku. Bung Hatta adalah seorang kutu buku dan pencinta buku.

Bulan September 1932 Bung Hatta berjumpa Bung Karno untuk pertama kalinya. Sejak itu, keduanya seperti dipertautkan alam, berjuang bersama membela Tanah Air. Beberapa kali mereka harus menikmati pembuangan oleh pemerintah jajahan, kadang bersama namun lebih banyak ditempatkan di tempat yang berbeda. Puncak kerjasama keduanya terpatri abadi pada teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di sana nama mereka berdua tertera sebagai wakil bangsa Indonesia.

Seperti disinggung di awal, Bung Hatta dan Bung Karno sejatinya dipertemukan oleh perbedaan, Polemik yang pertama antara keduanya mengenai strategi perjuangan terjadi pada dua surat kabar yang berbeda. Perbedaan pandangan antara keduanya dalam menyikapi berbagai persoalan terus mereka bawa sampai Indonesia merdeka dan keduanya memimpin Republik Indonesia. Puncak perbedaan itu terjadi pada 1956 ketika Bung Hatta akhirnya mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

(Purnawan Basundoro, “Bung Hatta Proklamator Sederhana Nyaris Jadi Ulama” Intisari, 2009)–NationalGeographic

  • Penulis: investigasi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panen Sawit Illegal dan Rusak Kantor, Tiga Oknum Warga Diamankan

    • calendar_month Jum, 31 Mei 2019
    • account_circle investigasi
    • visibility 114
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS – |Petugas gabungan keamanan (Security) area perkebunan PT Lonsum di Blok 06110841 Div 01 Kebun Kencana Sari Estate (KCE) Desa Suka Makmur SP III, Kecamatan Gumay Talang Kabupaten Lahat. Mengamankan tiga oknum masyarakat yang diduga melakukan panen buah kelapa sawit dan klaim kepemilikan lahan, kemarin. Ketiga oknum warga tersebut yakni pelaku Wiriadi membawa senjata […]

  • OP Bulog Bantu Warga Palembang

    • calendar_month Sab, 16 Des 2017
    • account_circle investigasi
    • visibility 111
    • 0Komentar

    PALEMBANG – Warga Palembang merasa sangat terbantu dengan adanya operasi pasar beras yang dilakukan Perum Bulog Divre Sumatera Selatan dan Bangka Belitung di sejumlah pasar, karena harganya jauh lebih murah. Salah seorang warga, Sri di Palembang, Sabtu mengatakan, kalau harga berasnya lebih murah bila dibandingkan dengan yang dijual di pasaran. Menurut dia, harga beras hanya […]

  • Jokowi Perlu Political Will untuk Atasi Penurunan Ekonomi

    • calendar_month Rab, 10 Jun 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    JAKARTA — Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) harus memiliki political will dalam menyelesaikan persoalan penurunan kondisi ekonomi. Sah-sah saja jika Jokowi melakukan perombakan kabinet untuk mempercepat laju perbaikan ekonomi. Pendiri Priyo Budi Santoso untuk Demokrasi (Pridem), Priyo Budi Santoso mengatakan butuh political will dalam mengatasi sulitnya kondisi ekonomi yang terjadi saat ini. “Presiden Jokowi harus menciptakan […]

  • Sinergi Pemprov Sumsel dan PT Pos Indonesia Salurkan Bansos ke Masyarakat Terdampak Covid-19

    • calendar_month Sel, 5 Mei 2020
    • account_circle investigasi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    PALEMBANG – | Gubernur Sumsel H Herman Deru menerima Kepala Regional 3 Kantor PT Pos Indonesia Palembang, Nyoman Sudanta beserta jajaran sehubungan dengan penawaran kerjasama dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat yang terdampak Covid-19, Selasa, 05/05) di ruang rapat Gubernur. “Terima kasih atas penugasan PT Pos Indonesia yang berperan dalam melayani pemerintah daerah terutama […]

  • Tetapkan Calih, KPU Mura Selesaikan Tahap Akhir Pemilu 2019

    • calendar_month Sen, 12 Agu 2019
    • account_circle investigasi
    • visibility 88
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – | Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Musi Rawas (Mura) telah menyelesaikan tahap akhir Pemilu 2019. Hal ini di tandai dengan selesainya penetapan Calon Legislatif Terpilih (Calih) DPRD oleh KPU Kabupaten Mura, Senin (12/08) di Gedung Serbaguna, Muara Beliti. Ketua KPU Kabupaten Mura, Anasta Tias mengatakan dengan selesainya penetapan Calih berarti pihaknya telah […]

  • Presiden: Pengaturan Hak Keuangan Dewan Pengarah BPIP Sudah Ada Mekanismenya

    • calendar_month Sel, 29 Mei 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 90
    • 0Komentar

    TERKAIT dengan hak keuangan bagi ketua dan anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa penetapan besaran hak keuangan tersebut sudah ada mekanismenya. Hal tersebut disampaikan Presiden kepada jurnalis setelah menghadiri Penutupan Pengkajian Ramadan 1439 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2018 di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Selasa, […]

expand_less