Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Peristiwa » Perlu Kepedulian, Kerusakan Hutan di Sumsel Masih Berlangsung

Perlu Kepedulian, Kerusakan Hutan di Sumsel Masih Berlangsung

  • account_circle investigasi
  • calendar_month Sel, 9 Mei 2017
  • visibility 41

PALEMBANG – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Selatan menyatakan berdasarkan pengamatan aktivis di sejumlah daerah kerusakan hutan di provinsi setempat masih berlangsung baik disebabkan faktor alam maupun ulah manusia.

Untuk mencegah terjadi kerusakan hutan yang semakin parah, diperlukan kepedulian semua pihak untuk menghentikannya dan penegakan hukum secara tegas baik terhadap masyarakat kecil maupun perusahaan besar, kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan Hadi Jatmiko, di Palembang, Selasa.

Menurut dia, hutan di provinsi yang memiliki 17 kabupaten dan kota ini mencapai seluas 3,5 juta hektare lebih, dari jumlah tersebut sebagian besar diprakirakan mengalami kerusakan baik ringan maupun berat.

“Hutan yang ada di provinsi ini dimanfaatkan secara berlebihan, kayunya ditebangi tanpa upaya penghijauan yang seimbang dan lahannya dimanfaatkan untuk pertambangan dan perkebunan dengan alasan pemanfaatan potensi daerah untuk kesejahteraan rakyat, sementara upaya pelestariannya sangat rendah” ujarnya.

Akibat terjadi kerusakan yang cukup luas, mengakibatkan hutan di provinsi yang memiliki penduduk sekitar 8,6 juta jiwa itu tidak dapat berfungsi secara maksimal menyerap air hujan dan ketika musim hujan terjadinya luapan sungai di mana-mana yang dapat menimbulkan kerugian harta benda dan korban jiwa.

Kerusakan hutan di provinsi ini tidak boleh dibiarkan terus meluas karena dapat menghambat upaya penanganan perubahan iklim dan penyelamatan lingkungan hidup.

Untuk mengatasi masalah kerusakan hutan, Walhi menantang menteri lingkungan hidup se-Asia Pasific yang berkumpul di Kota Palembang pada 9-10 Mei 2017 dalam acara pertemuan “Bonn Challenge” yang merupakan upaya global untuk memulihkan 150 juta hektare lahan terdegradasi di dunia pada 2020 melakukan tindakan nyata dan tidak berpihak kepada perusahaan yang terbukti melakukan kejahatan lingkungan/perusak hutan untuk kepentingan bisnisnya.

Hutan perlu dikembalikan fungsinya sebagai gudang penyimpan air dan tempat penyerapan air hujan, sehingga air hujan yang berlimpah dapat disimpan di dalam tanah dan tidak langsung mengalir mengakibatkan meluapnya sungai dan banjir seperti yang terjadi di beberapa daerah pada musim hujan beberapa bulan terakhir ini.

Jika masalah kerusakan hutan tidak segera diatasi, bencana ekologi pada setiap musim hujan akan terus mengancam masyarakat dan pada tahun-tahun mendatang bisa semakin parah karena provinsi ini tergolong cukup rawan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor, kata Hadi. (ant)

  • Penulis: investigasi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Uang Suap Penerimaan Bintara di Polda Sumsel Meningkat

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2017
    • account_circle investigasi
    • visibility 48
    • 0Komentar

    PALEMBANG – Uang suap yang diamankan Tim Propam Mabes Polri dari tersangka suap penerimaan anggota bintara Polri tahun 2016 di lingkungan Polda Sumatera Selatan mengalami peningkatan. “Uang suap yang awalnya dihimpun dari delapan tersangka sekitar Rp4 miliar kini hasil pengembangan dan pemeriksaan terakhir berkembang menjadi Rp6,7 miliar dari 15 tersangka,” kata Kapolda Sumatera Selatan Irjen […]

  • Awal Juni, Bupati Musi Rawas Berkantor di Muara Beliti

    • calendar_month Rab, 30 Mei 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Musi Rawas – Jika tidak ada halangan, awal Juni 2018 ini, Pasangan Pemimpin Kabupaten Musi Rawas akan mulai bertugas di Kantor Bupati Musi Rawas di Muara Beliti. Kepastian ini setelah Bupati Musi Rawas, H Hendra Gunawan, Rabu (30/05/2018) melakukan peninjauan persiapan ruangan yang akan menjadi ruang kerjanya. Dikatakan Bupati disela-sela kunjunganya, melihat dari kondisi ruang […]

  • Mura Terpantau 4 Titik Hospot

    • calendar_month Jum, 28 Jun 2019
    • account_circle investigasi
    • visibility 58
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – | Kendati hingga penghujung juni 2019, hampir sebagian besar wilayah Kabupaten Musi Rawas (Mura) belum ditemukanya kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hanya saja, sedikitnya  terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Namun, setidaknya ada sebanyak 4 titik api (Hospot) terpantau wilayah Kecamatan Muara Lakitan. Kepastian itu disampaikan, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah […]

  • Gubernur Sumsel Sebut Ada PR 240 Aset Mobil Belum Kembali

    • calendar_month Rab, 8 Jan 2020
    • account_circle investigasi
    • visibility 72
    • 0Komentar

    PALEMBANG – | Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru menerima kedatangan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumsel yang baru Dr. Wisnu Broto berikut jajarannya untuk bersilaturahim. Acara berlangsung di ruang tamu gubernur. Selasa (07/01/2020) sore. “Pertama tama saya ucapkan selamat datang kepada Pak Wisnu. Selama ini Alhamdulillah kerjasama Pemprov dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel sudah berjalan. […]

  • Loker ke Jepang Tidak Diminati Warga Mura

    • calendar_month Rab, 19 Jun 2019
    • account_circle investigasi
    • visibility 48
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – | Lowongan kerja (Loker) luar Negeri, tujuan negara Jepang dibuka Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Disnakertrans) Mura. Namun sudah cukup lama dibuka tidak satupun pencari kerja (Pencaker) warga Kabupaten Musi Rawas berminat daftarkan diri. Kepastian itu disampaikan, Plt Kepala Disnakertrans Mura, Riswan Effendi melalui Kasi Penata Kerja, Herwanto ketika dibincangi wartawan diruang kerjanya. […]

  • Musim Sedekah Haji, Harga Telur Ayam Melonjak Naik

    • calendar_month Rab, 10 Jul 2019
    • account_circle investigasi
    • visibility 52
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – | Menghadapi musim sedekah Haji, harga kebutuhan pokok Telur Ayam diperjual belikan sejumlah pasar tradisional Kabupaten Mura melonjak naik. Telur ayam biasanya seharga Rp. 37 ribu, sudah sepekan ini harganya naik menjadi Rp. 50 Ribu perkarpetnya. Sumarni (35) salah satu pedagang telur ayam, Pasar tradisional B. Srikaton Tugumulyo menyebutkan. Sudah sejak pasca […]

expand_less