Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Peristiwa » Ikhwal Batu Dalam Kebudayaan Manusia

Ikhwal Batu Dalam Kebudayaan Manusia

  • account_circle investigasi
  • calendar_month Kam, 12 Feb 2015
  • visibility 144

Awalnya, orang memburu dan memuliakan batuan ini karena keindahan dan kelangkaannya

Batu lama menempati posisi penting dalam kebudayaan manusia. Bahkan, jejak manusia pada batu bisa menjadi penanda evolusi kebudayaan manusia. Zaman batu adalah era tertua dalam evolusi kebudayaan manusia di Bumi.

Di fase awal ini, sekitar 2,6 juta tahun lampau, yang dikenal dengan nama Paleolitik atau Zaman Batu Tua, manusia hidup dari berburu dan meramu. Alat pertama yang digunakan adalah palu batu dan batu serpih tajam yang ditemukan di alam.

Sekitar 10.000 tahun lalu, peradaban manusia memasuki fase Mesolitik atau Zaman Batu Pertengahan. Zaman ini ditandai kemahiran membentuk batu menjadi alat bantu, misalnya untuk mata tombak dan berbagai alat lain yang bisa menopang aktivitas bercocok tanam. Kemahiran mengolah batu kian memuncak pada era Batu Muda atau Neolitik.

Di penghujung era ini, alat-alat logam, utamanya perunggu, mulai ditemukan. Lahirlah Zaman Perundagian. Alat-alat dari batu mulai digantikan logam yang lebih liat dan tajam. Namun, batuan tidak ditinggalkan. Bahkan, fase ini melahirkan pemuliaan terhadap batuan dengan munculnya monumen-monumen batu raksasa atau dikenal peradaban Megalitic atau Batu Besar.

Pada era ini, batu tidak lagi dihargai karena fungsinya sebagai alat bantu, tetapi karena “nilai”-nya sebagai penopang ritual, sarana penguburan, bahkan sebagian kebudayaan melekatkan sifat-sifat keilahian dalam batuan ini. Biasanya, batu-batu besar ini diukir menjadi figur tertentu (Mohen, J P, 1999 dalam Megalithic: Stones of Memory).

Di Indonesia, tradisi megalitik ini tersebar luas sebelum masa Hindu-Buddha. Bahkan, hingga kini, sebagian masyarakat Nusantara masih melestarikan kebudayaan ini dalam bentuk asli, seperti di Nias, Batak, Sumba, dan Toraja. Beberapa sudah mengalami akulturasi dengan lapisan kebudayaan setelahnya, seperti terjadi di Bali dan Sunda (Agus Aris Munandar dalam The Continuity of Megalithic Culture and Dolmen in Indonesia).

Batuan elite

Berakhirnya era Batu Besar tidak memutus ikatan manusia pada batuan. Era ini ditandai dengan menguatnya pemuliaan terhadap batu-batu yang dianggap unik dan langka, yang biasanya dicirikan dengan bentukan kristal dan warna-warna menawan, mulai dari zamrud, ruby, safir, hingga berlian.

Hampir setiap peradaban besar pada masa lalu memiliki jejak pemuliaan terhadap batuan ini, mulai dari Yunani hingga Mesir kuno. Tak hanya pemuliaan karena keindahan dan keunikannya, bangsa-bangsa kuno juga menganggap batu-batuan ini memiliki kekuatan magis. Di Barat, kepercayaan pada kekuatan batu ini bertahan hingga Abad Pertengahan ketika rasionalisasi ilmu mereka menyingkap mekanisme pembentukannya di alam, dan upaya peniruannya di laboratorium mulai dilakukan.

Dari aspek geologis, pembentukan batuan mulia ini memang tak berbeda dengan mineral alam lain, misalnya melalui diferensiasi magma, metamorfosa, atau sedimentasi. Namun, dari sekitar 3.000 jenis mineral di Bumi, hanya terdapat 150-200 yang termasuk jenis batu mulia, yang menempatkan batuan ini dalam jajaran elite.

Beberapa di antara jajaran mineral elite ini, intan paling elite. Paling langka dan paling keras di antara semua jenis batuan alam.

Dalam jajaran batu mulia, skala kekerasan intan mencapai 10 mohs, disusul batuan safir dan ruby (mirah delima) mencapai 9 mohs, zamrud mencapai 7-8 mohs. Batuan akik yang digolongkan batuan setengah mulia memiliki kekerasan kurang dari 7 mohs.

Jadi, awalnya, orang memburu dan memuliakan batuan ini karena keindahan dan kelangkaannya. Siapa memilikinya seolah ada dalam jajaran elite, seperti dipraktikkan raja-raja masa lalu yang berlomba menyematkan batu mulia dalam mahkota.

Hingga kini, sekalipun kristal buatan dengan keindahan nyaris menyerupai buatan alam berhasil diciptakan, perburuan batuan mulia buatan alam tak berhenti. Pemuliaan batu-batuan alam ini tak hanya persoalan pemenuhan akan keindahan, tetapi juga memenuhi kerinduan pada jejak awal evolusi peradabannya.

(Ahmad Arif/KOMPAS)-NationalGeographic

  • Penulis: investigasi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 300 Ekor Sapi Mati Karena Virus Jembrana di Musi Rawas

    • calendar_month Sen, 12 Mar 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 127
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS, Jurnalindependen.com – Hingga kini sebanyak 300 ekor lebih Sapi di Musi Rawas mati karena terjangkit virus jembrana, kejadian ini berlangsung sejak November tahun lalu. Menghadapi masalah ini, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Musi Rawas terus menggelar gerakan vaksinasi jembrana untuk mencegah meluasnya virus mematikan ini. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan melalui Sekretarismya, Tohirin […]

  • Pengaturan Anggaran Pilar Desa di Serahkan ke Pemdes

    • calendar_month Sen, 12 Jun 2017
    • account_circle investigasi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    MUSIRAWAS, Jurnalindependen.com – Program Gerakan Bersama Pemasangan Pilar Batas Desa (Gema Sang Pilar) bakal tidak terlaksana dengan mulus. Post Views: 366

  • Serius Tangani Narkoba, BNNK Mura Kukuhkan Tim Pemburu Rehab Ekternal

    Serius Tangani Narkoba, BNNK Mura Kukuhkan Tim Pemburu Rehab Ekternal

    • calendar_month Sen, 29 Mei 2023
    • account_circle investigasi
    • visibility 178
    • 0Komentar

    MUSI RAWAS – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Musi Rawas mengelar Coffe Morning sekaligus mengukuh Tim Pemburu Rehab Eksternal, di halaman Kantor tersebut, Muara Beliti Senin, (29/5/2023).  Ketua BNNK Musi Rawas, AKBP Abdul Rahman menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus apresiasi atas berkenan hadir pada kegiatan pertemuan tersebut, yang mana dikemas dalam acara Coffe Morning. Sebagaimana […]

  • Tanah Sengketa Makmur-Tolha “Status Quo” Jadi Posko BNPB

    • calendar_month Kam, 29 Okt 2015
    • account_circle investigasi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Palembang, Jurnalindependen.com — Lokasi Tanah Sengketa antara Makmur dan Tolha Hasan dibangun pagar oleh Asiyah. Posisi tanah tersebut yang sekarang dipakai sebagai Posko BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). “Kami disini menumpang saja, tanpa bayar apapun, Dan sudah atas izin kedua Pemilik yang sedang sengketa” demikian dijelaskan Maman, ketua tim Posko BNPB Sumsel. (27/10/2015) Tanah Tersebut sekarang […]

  • Masa Jabatan Kurang Dari Setahun, Panglima TNI Yudo Margono : Laksanakan Tugas Optimal

    Masa Jabatan Kurang Dari Setahun, Panglima TNI Yudo Margono : Laksanakan Tugas Optimal

    • calendar_month Sel, 20 Des 2022
    • account_circle investigasi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    JAKARTA – Presiden Joko Widodo melantik Laksamana TNI Yudo Margono sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Andika Perkasa kemarin. Yudo Margono sebelumnya merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Laut. Dia akan menjabat sebagai Panglima TNI hingga November 2023 atau hanya kurang dari setahun. Meski hanya menjabat kurang dari setahun, Yudo tidak ingin menganggapnya sebagai kendala. “Dari dulu tidak pernah berpikir masa […]

  • Bupati Musi Rawas Nobar Final Piala Dunia 2018 Bersama Kapolres

    • calendar_month Sen, 16 Jul 2018
    • account_circle investigasi
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Musi Rawas – Ribuan masyarakat bersama Bupati Musi Rawas, H Hendra Gunawan dan Kapolres Musi Rawas AKBP Bayu Dewantara memadati lokasi Nonton Bareng (Nobar) Final Piala Dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia di Bundaran Air Mancur Beregam, Muara Beliti. Ahad (15/07/2018) Malam. Selain disajikan makanan dan snack, nobar ini juga disajikan hiburan organ tunggal dan […]

expand_less