KBM Sekolah di Musi Rawas Masih Tetap Daring

MUSI RAWAS – | Hingga kini kegiatan belajar mengajar (KBM) sekolah di Kabupaten Musi Rawas (Mura) masih sistem daring dan belum bisa menerapkan tatap muka.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mura, Irwan Evendi melalui Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas), Raslim mengatakan kendati pihaknya sudah mempersiapkan syarat-syarat pemenuhan protokol kesehatan (Prokes) agar KBM bisa tatap muka namun tetap belum bisa karena belum ada izin dari Kepala Daerah.

“Sebelumnya telah beberapa kali kita mengadakan rapat baik lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mura maupun lintas sektoral termasuk Polres serta rapat pimpinan (Rapim). Namun belum ada kata sepakat agar KBM bisa tatap muka.

Akhirnya, ditentukan sampai batas 17 Januari akan dikaji kembali apakah akan berlanjut daring atau bisa tatap muka,” jelas Raslim.

Mengenai KBM daring ini sempat juga dipertanyakan Anggota DPRD Mura, kata Raslim. Dan sudah dijelaskan, apalagi sudah ada Surat Edaran Gubernur Sumsel tentang KBM tetap daring.

“Kita sudah berupaya agar KBM bisa tatap muka dengan berbagai sistem selain tetap mengacu ke standar prokes.

Misalnya volume tatap muka dibatasi, dengan pembatasan jumlah siswa dikelas. Baik secara bergantian maupun selang sehari masuk kelas.

Namun tetap tidak bisa, karena harus ada izin dari Pemda dan juga persetujuan orang tua siswa,” ungkapnya.

Menurut Raslim ada beberapa efek dan perubahan perilaku negatif sistem daring yakni anak-anak telah terbiasa menggunakan handphone (HP) dan telah merasakan kemudahan mengakses berbagai aplikasi. Sehingga menimbulkan ketertarikan dan keterikatan dengan HP.

Selain itu anak jadi gagal fokus, respon lambat. Hal ini karena anak selalu berfikir ke HP, ingin mengakses program-program yang ada di HP merasa nikmat dengan HP.

Kemudian, HP telah mengalihkan perhatian anak dari hal-hal yang lain, seperti olah raga, pekerjaan rumah serta hal-hal positif lain secara offline.

“Tidak dipungkiri dengan HP lebih membantu dan mempermudah belajar anak, namun berapa persen penggunaan HP benar-benar untuk belajar.

Ternyata sebagian besar waktu anak menggunakan HP untuk hiburan dan kesenangan lainnya.

Ini juga sebenarnya yang menjadi keluhan para orang tua. Semoga kita semua dapat menyadari dan secara bersama mengatasi permasalahan ini. Karena semua elemen mesti bekerjasama dan saling membantu agar efek negatif HP bagi anak dapat dikurangi.

Kita tidak bisa menghalangi teknologi, tapi mungkin masih bisa mengatasi jangan berefek kepada negatif,” tutup Raslim saat dijumpai di kantornya, Kamis (07/01/2021).

Penulis/Editor : Faisol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *