Dunia Sementara Akhirat Selamanya

Palembang – Lantunan merdu Al-Quran Surat AS-Sajadah ayat 1-10 menggema indah di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Palembang (Lapas Merah Mata). Potongan ayat suci tersebut dikumandangkan oleh Ariansyah Bin M. Kamil, salah satu Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang berhasil menghapal 30 Juz Al-Quran dan akan mengikuti Wisuda Tahfidz Al-Quran ke-VI WBP Lapas Kelas I Palembang, Rabu (26/8). Kegiatan Wisuda Tahfidz ini terselenggara berkat kerja sama yang baik dengan Yayasan Amil Zakat PT. Pupuk Sriwijaya (YAZRI) selaku pembina kerohanian.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumatera Selatan Ajub Suratman memimpin langsung jalannya kegiatan. Sebanyak 35 WBP Tahfiz Al-Quran Lapas Kelas I Palembang diwisuda dengan beragam jumlah hafalan yang dimiliki, mulai dari yang hafal 1 (satu) juz hingga 30 juz. Turut mendampingi Kakanwil, ada Kepala Divisi Administrasi (Ridqi Adrian Kriswanto), Kepala Divisi Pemasyarakatan (Alfi Zahrin Kiemas), Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) se- Sumatera Selatan, hingga Kepala Lapas Kelas I Palembang (Kadiyono) beserta jajaran selaku tuan rumah. Juga pihak stakeholder seperti Ketua YAZRI Palembang dan Pimpinan BRI Palembang Sriwijaya.

Ketua YAZRI Palembang selaku tim pembina kerohanian WBP pada Lapas Kelas I Palembang menyampaikan sambutannya. “Wisuda Tahfidz Al-Quran ini adalah wisuda yang ke-6, artinya sudah 6 (enam) tahun berturut-turut Lapas Merah Mata telah bekerja sama dengan YAZRI Palembang untuk membina rohani para WBP disini. Kedepannya, semoga WBP yang telah menghapal Al-Quran menjadi imbalan dalam menjalani masa hukumannya. Moga bisa dipertimbangkan oleh Kakanwil dan jajaran,” ucap pimpinan YAZRI Palembang.

Selanjutnya, Kepala Lapas Kelas I Palembang Kadiyono juga menyampaikan sambutannya. “Setelah 2 bulan menjabat Kalapas disini, saya sangat terharu karena Lapas Kelas I Palembang ini memiliki inovasi yang sangat unik dan bermanfaat, serta sangat jarang sekali dimiliki oleh satuan kerja yang lain. Program Wisuda Tahfidz Al-Quran ini adalah salah satu pembinaan kepribadian WBP yang juga merupakan perwujudan nyata dari program ‘Masuk Napi Keluar Dai’ dengan metode pembelajaran ‘One Day One Juz’ hasil rintisan pimpinan terdahulu yang harus kita lestarikan, bahkan ditingkatkan. Kita sebagai penerus wajib menyuarakan kegiatan ini hingga gaung syiarnya bisa terdengar ke masyarakat luar,” ujar Kadiyono bersemangat.

Rangkaian Wisuda Tahfidz Al-Quran ini ditandai dengan pengalungan gordon wisudawan oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Sumsel yang dilanjutkan dengan penyerahan kitab suci Al-Qur’an serta piagam dan bingkisan kepada para wisudawan oleh Kepala Lapas Kelas I Palembang, Kepala Divisi Administrasi dan Ketua YAZRI.

Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Sumatera Selatan Ajub Suratman melanjutkan kegiatan dengan memberikan arahah. Wisuda Tahfidz kali ini, kata Kakanwil, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Pada tahu-tahun lalu, jumlah WBP yang diwisuda hanya 20 orang, tapi tahun ini luar biasa, bisa mencapai 35 orang dengan rincian 30 juz, 21 juz, 11 juz, hingga 1 juz. Ini merupakan hal yang baik dan merupakan bukti dari keberhasilan program pembinaan kerohanian. Harus kita syukuri dan kita lanjutkan karena inilah ilmu agama yang bisa kita berikan kepada mereka dengan harapan agar setelah selesai menjalani masa hukuman dalam Lapas, mereka dapat kembali diterima di lingkungan masyarakat dengan bekal ilmu agama yang telah diperoleh,” tutur Kakanwil.

Lebih lanjut, Kakanwil juga mengajak seluruh audience yang hadir untuk memperbanyak bersedekah dan mengingat mati. “Mari kita bersedekah, menyumbangkan dana terbaik kita untuk bersedekah. Karena dengan bersedekah dapat memanjangkan usia, menghilangkan musibah dan memperindah wajah. Juga dengan mengingat kematian, hidup kita akan lebih bermakna karena selalu mengingat hidup yang hanya sementara. Dunia Sementara, Akhirat selamanya,” lanjut Kakanwil.

Di akhir arahannya, Kakanwil memberikan motto hidup 4L sesuai dengan arahan Menteri Hukum dan HAM RI beberapa waktu lalu. “Ingat selalu apa yang disampaikan oleh Menkumham, bahwa dalam bekerja kita harus ingat 4L: to live, to learn, to love, to legacy. Pertama adalah To Live, untuk menjalani hidup dengan maksimal mungkin. Kedua adalah To Love, yaitu hidup untuk mencintai sesama, bahkan saling mencintai sesama pegawai bahkan WBP. Ketiga adalah To Learn, yakni hidup untuk selalu belajar dan terus belajar. Terakhir adalah To Legacy, yaitu hidup untuk meninggalkan warisan yang baik dan bermanfaat di kepemimpinan selanjutnya,” tutup Kakanwil. (Ridho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *