Syafii Efendi : Nikah Muda, Nikah Kaya Tanpa Pacaran, Kenapa Tidak?

Syafii Efendi : Nikah Muda, Nikah Kaya Tanpa Pacaran, Kenapa Tidak?

LUBUKLINGGAU – | Syafii Effendi pembicara Nasional, Trainer dan Motivator Muda terkemuka di Indonesia melarang pacaran. Alasan ini dikemukakan karena pacaran dapat menghambat fokus menuju sukses.

“Budaya pacaran sering dipertontonkan di TV, Youtube dan dari sumber lain. Secara tidak sadar ini merusak fokus kemandirian kita. Demikian juga musik-musik yang kita dengar, secara tidak sadar masuk ke alam pikiran dan menjadi keyakinan. Seharusnya apa yang kita tonton, dengar sesuai dengan fokus atau tujuan kita.

Mau sukses mandiri harus bisa lakukan perubahan besar, tidak dikotori dengan input-input yang tidak produktif dari luar kita,” ungkap Syafii Efendi kepada peserta Seminar Nasional Character Building Winning Mentality For Industrial Revolution 4.0, di Gedung Bagas Raya Lubuklinggau, Kamis siang (29/08).

Pembicara Nasional yang juga Presiden of OIC Youth Indonesia yakni organisasi pemuda Islam untuk Indonesia ini, mengajak sekitar 1.200 lebih peserta dari berbagai SLTA di Lubuklinggau dan Musi Rawas untuk fokus melihat masa depan yang lebih baik dan cerah dengan menjaga pikiran dan hati.

“Nikah muda, nikah kaya tanpa pacaran kenapa tidak. Karena ini suatu keniscayaan.

Coba lihat kebanyakan orang yang kita amati, belum mandiri malah pacaran. Akan terlihat kere miskin tidak punya apa-apa malah akhirnya nikah dalam keadaan seperti itu morat marit,” katanya.

Bertekad dan bisa sukses diusia muda, sambungnya kemudian menikah tanpa pacaran itu kebanggaan. Dengan mengejar fokus mandiri diusia muda, maka nikah muda bisa dicapai. Sehingga usia kita tidak terpaut terlalu jauh dengan anak.

“Sekali lagi, anda jangan pacaran, karena merusak fokus menuju kemandirian anda diusia muda. Anda setuju?” Tanya Syafii Efendi

Dan dijawab peserta dengan semangat, “Setujuuu.”

“Yang difokuskan kemandirian dan sukses diusia muda, supaya ketika menikah sudah matang persiapan masa depan termasuk nantinya mendidik dan menyekolahkan anak.

Kita masih muda, sementara anak-anak mulai tumbuh dewasa. Bukan menikah sudah tua, punya anak, tapi kita sudah tidak ada daya upaya lagi karena sudah sangat tua. Bisa-bisa kita dibilang kakeknya atau neneknya dari anak kita,” kata Syafii Efendi.

Sementara, Ketua Projects Wawan Asri mewakili DPD Wimnus Sumatera Selatan mengatakan, seminar ini memberikan wawasan kepada peserta tentang pentingnya pemuda menghadapi era teknologi atau revolusi industri 4.0

“Seminar ini yang kesekian kalinya dilaksanakan di seluruh Indonesia, dimana setelah ini Syafii Efendi yang juga penulis 8 buku best seller ini, akan terus memotivasi pemuda di berbagai daerah lainnya di Indonesia, setelah Lubuklinggau dirinya dijadwalkan memberikan motivasi kepada pemuda di Jambi dan Riau

Hadir dalam seminar tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Lubuklinggau, H Rahman Sani mewakili Walikota. Mewakili Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau. Rektor Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) dan para dosen. Guru-guru SLTA di Lubuklinggau dan Musi Rawas serta sekitar 1.200 peserta pelajar SLTA. | *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *