Menpar : Salah tentukan haluan, ‘Dosa Besar’ perencana pembangunan

PALEMBANG – Menteri PariwIsata Arief Yahya mengungkap alasan prioritas pembangunan pariwisata saat menjadi pembicara kunci pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi Sumatera Selatan di Palembang, Selasa (12/04/2016)

Di depan para kepala daerah tingkat provinsi dan kabupaten dan kota serta pejabat terkait se-Sumsel, Menteri Pariwisata mengingatkan jangan sampai pembangunan salah arah hanya karena tidak tahu prioritasnya.

“Sekali salah menentukan haluan, semakin jauh dari cita-cita yang hendak dicapai. Itu ‘dosa besar’ bagi perencana pembangunan,” kata Menpar .

Arief Yahya memulai paparannya dengan “The Third Wave” karya Alfin Toffler dalam “Future Shock”. Gelombang pertama adalah kehidupan agraris, sektor pertanian.Gelombang kedua, manufakturing, pabrik-pabrik, era industri, era mesin-mesin produksi dan bersifat masal. Gelombang ketiga, era teknologi informasi.

“Saat ini adalah ujung dari gelombang ketiga itu,” katanya.

Indonesia, katanya, menghadapi gelombang selanjutnya adalah “creative industry” atau “cultural industry”.

“Pariwisata masuk dalam cultural industry. Jasa atau ‘services’ akan lebih berprospek daripada dua bidang, ‘agriculture’ dan ‘manufacture’ itu. Karena itu, kalau salah ‘setting’, akan kehilangan kesempatan untuk memenangkan persaingan global,” kata Arief Yahya.

Menurut Menpar, tugas paling mendasar kepala daerah adalah memberikan arah, dan mengalokasikan sumber daya, baik budget (anggaran) maupun manusia.

“Pertanyaannya, apakah sudah benar dalam alokasi anggaran ke sektor yang sudah pasti bakal menaikkan nilai tambah daerah? Atau masih menggunakan asumsi lama yang terus merosot? Apakah sudah betul menempatkan SDM terbaiknya ke sector yang menjadi prioritas,” kata Menpar.

Menteri yang berasal dari Banyuwangi dan beristri orang Palembang ini pun memaparkan angka-angka yang sulit dibantah soal bidang pariwisata yang terus maju.

Ia mengutip data Badan PBB untuk Pariwisata Dunia (UNWTO) dari UNWTO Tourism Highlight 2014, UNWTO World Tourism Barometer 2015, WTTC 2015 meyakinkan, meskipun krisis global terjadi beberapa kali, jumlah perjalanan wisatawan internasional tetap tumbuh positif.

“Tahun 1950 ada 25 juta orang. Tahun 1980 melompat menjadi 278 juta. Tahun 1995 menanjak lagi 528 juta. Dan tahun 2014 ada pergerakan wisatawan 1,14 miliar orang,” kata Menpar.

Pariwisata sudah mengalami ekspansi dan diversifikasi berkelanjutan, dan menjadi salah satu sektor ekonomi yang terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia.

Menurut Arief Yahya, meningkatkan destinasi dan investasi pariwisata menjadi faktor kunci dalam pendapatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan infrastruktur.

“Itulah mengapa pariwisata menjadi sektor unggulan, kunci pembangunan, kesejahteraan dan kebahagiaan,” katanya.

Tahun 2015, kata Arief Yahya, Travel & Tourism secara langsung menyumpangkan USD 2,4Triliun pada PDB. Nilai itu berarti dua kali lipat dibandingkan industri otomotif dan hampir 50 persen lebih besar dari industri kimia global.

Sumbangan/kontribusi total pariwisata dunia terhadap PDB Dunia selalu meningkat setiap tahun. Tahun 2015 naik 4,3 persen, diprediksi 2016 naik 4,7 persen, dan selama 10 tahun ke depan akan naik 4,5 persen, katanya.

Sumber : Antara Sumsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: As Salamu \'alaikum Wr. Wb