Mencari Benang Merah Pemeriksaan 6 Pejabat MA oleh KPK

Jakarta – KPK hingga hari ini masih menutup rapat arah penyidikan terkait ditangkapnya Andri Trisianto (ATS) dalam kasus suap mengurus proses kasasi. Sedikitnya 6 pejabat Mahkamah Agung (MA) telah diperiksa di kasus ini.

ATS ditangkap pada Jumat (12/2) malam di rumahnya usai menerima uang Rp 400 juta dari Ichsan Suaidi. Setelah itu, KPK menggeledah ke berbagai tempat. Sepekan kemudian, KPK memeriksa para pejabat MA terkait kepengurusan kasasi-peninjauan kembal (PK).

Pejabat pertama yang diperiksa adalah Dirjen Badan Peradilan Umum (Badilum), Herri Swantoro pada Senin (22/2) lalu. Usai diperiksa, Herri irit bicara dan memilih dua kata untuk menjelaskan proses pemeriksaanya yaitu no comment. Di hari yang sama, KPK juga memeriksa Direktur Pranata dan Tata Laksana Perkara Pidana MA, Wahyudin dan Direktur Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata, Ingan Malem Sitepu.

Selang sehari kemudian, Panitera MA Soeroso Ono yang digilir KPK. Panitera merupakan orang yang paling bertanggungjawab terhadap keseluruhan berkas perkara terkait teknis yudisial. Kepada wartawan, Soeroso menjelaskan pemeriksaanya itu terkait prosedur berperkara di MA. Menurut Soeroso, apa yang dilakukan ATS merupakan tindakan spekulasi.

“Itu spekulasi (agar bisa menahan putusan). Yang bodoh itu yang memberi duit. Itu hal yang tidak mungkin (bisa menahan putusan). Mestinya harus dilihat perkara pidana itu mestinya tidak akan bisa ditolong,” kata Soeroso.

Di hari yang sama, Panitera Muda Pidana Khusus Rocky Panjaitan juga ikut dimintai keterangan. Rocky terpaksa dimintai keterangan karena perkara yang dijual ATS adalah perkara yang ada di bawah kewenangannya yaitu kasus korupsi. Setali tiga uang dengan Soeroso, Rocky juga menjelaskan alur birokrasi pemeriksaan perkara yang ada dalam lingkup kewenangannya.

“Saya enggak ditanya perkara-perkara. (Ditanya penyidik KPK soal) manajemen perkara saja, manajemennya, alur perkara itu,” kata Rocky.

Pejabat terakhir yang diperiksa adalah Koordinator Data Panitera MA Asep Nursobah dan dimintai keterangan pada Jumat (26/2) lalu. Dalam kesempatan terpisah, Asep menyatakan pemeriksaan dirinya terkait sistem teknologi informasi perkara di MA.

“Saya tadi diminta print out log sistem informasi perkara. Alhamdulillah berdasarkan log aplikasi, amar putusan segera terpublikasi sesuai standar one day publish, demikian juga dengan publikasi putusan lengkapnya di direktori putusan, terpublis segera setelah putusan dikirim ke PN,” ujar Asep.

6 Saksi telah diperiksa KPK tetapi belum terlihat arah pemeriksaan mengarah ke mana. ATS masih bungkam dan mengaku dirinya bekerja seorang diri. Termasuk sekoper uang uang ditemukan di rumahnya di Gading Permai, diakui hasil usaha pribadinya.

“Uang itu uang usaha saya. Tidak ada hubungan uang dengan pekerjaan. Tidak ada. Tidak ada pejabat yang terlibat. Semua akan saya ungkap di persidangan,” ucap Andri.

KPK menyatakan pemanggilan itu terkait pemeriksaan detail soal alur perkara di MA.

“Pemeriksaan Soeroso dan Ricky ini terkait pemeriksaan lebih detail lagi proses penanganan perkaranya, kemudian siapa-siapa saja yang memiliki kewenangan dalam proses itu,” ucap Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha. (asp/erd-Detik.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: As Salamu \'alaikum Wr. Wb