Program CSR PT Pertamina Gagal, Koptan Minta Sertifikat dan Hapus Hutang

MUSI RAWAS, Jurnalindependen.com — Tidak kurang dari 30 Kelompok Tani (Koptan) yang ada di Kecamatan Tugumulyo, Sumber Harta dan Purwodadi Kabupaten Musi Rawas mengharapkan agar sertifikat agunan pinjaman di PT Pertamina regent 2 Sumbagsel dikembalikan serta pemutihan hutang.

“Kami berharap, pihak PT Pertamina mengembalikan sertifikat agunan dan pemutihan hutang. Karena program Corporate Social Responsibility (CSR) dianggap gagal dan pihak ketiga maupun oknum karywan PT Pertamina tersangkut pidana.

Dalam hal ini kami tidak bersalah, program tersebut gagal karena pihak ketiga yang ditunjuk PT Pertamina ingkar terhadap kesepakatan sehingga kami dirugikan. Sementara pinjaman dana dari PT Pertamina mesti dibayar dan menitipkan sertifikat sebagai jaminan (agunan),” ungkap salah satu koordinator Koptan di Purwodadi, Ridwan R kepada wartawan, Kamis (28/01/2016).

Sementara itu, Aktivis Yayasan PUCUK, Efendi membantu memberikan penjelasan bahwa pada 2009 PT Pertamina regent 2 Sumbagsel menggelontorkan program CSR berupa pinjaman dana untuk Koptan di tiga provinsi (Sumsel, Jambi dan Bengkulu). Dengan rincian jumlah koptan di Sumsel dalam hal ini Kabupaten Musi Rawas ada 30 koptan sama dengan di Bengkulu, sedangkan di Jambi tidak diketahui persis berapa jumlahnya namun kira-kira dua kali lipat jumlah koptan yang ikut di Musi Rawas.

Pinjaman dana dimaksud untuk melaksanakan program budidaya belut dengan anggaran Rp 71.500.000,- per koptan yang dikirim PT Pertamina ke rekening koptan. Pinjaman ini dijanjikan mesti lunas pada 2011 dengan agunan berupa sertifikat tanah/ atau rumah.

Dana dimaksud disalurkan ke pihak ketiga dengan order untuk bibit/pakan belut dan lainnya senilai Rp 28.725,- sedangkan dana lainnya untuk sarana dan prasarana, kolam, lumpur dan lainnya. Uang yang disetor ke pihak ketiga dalam hal ini PT Zoo Fod sesuai MOU dengan PT Pertamina, tetapi bibit dan pakan tidak pernah datang hingga akhir masa pengembalian hutang koptan

Karena Koptan tidak dapat membayar hutang, maka diadakan pemulihan dengan program CSR baru dari PT Pertamina pada 2012 berupa budi daya ikan. Digelontorkanlah dana kedua dari PT Pertamina ke Koptan dengan nilai hampir sama dengan dana yang pertama di tahun 2009.

Akan tetapi proses penyaluran dari PT Pertamina tidak langsung namun melalui pihak ketiga PT Sang Hyang Seri (SHS) yang menyediakan ikan pakan dan lainnya. Program ini pun macet, ada koptan yang baru panen sekali, kiriman bantuan terhenti, padahal panen pertama semua di ambil pihak PT SHS, koptan belum menikmati.

Dalam kasus ini sudah ada yang dibui karena tindak pidana, selain itu ada juga yang menjadi tersangka baik dari pihak ketiga maupun oknum karyawan PT Pertamina.

Titik persoalan masalah ini adalah bagaimana sertifikat jaminan koptan dapat diambil serta adanya penghapusan hutang, karena dalam hal ini Koptan dirugikan dan belum merasakan hasil dari program tersebut, demikian tutup Efendi. (fs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: As Salamu \'alaikum Wr. Wb